10 Hal Kecil yang Menciptakan Engagement

Akhirnya saya mendapatkan jawaban tentang apa itu engagement yang tidak sempat dijelaskan didalam beberapakali saya mendengar kata engagement, baik itu sambutan, training atau sosialisasi. Selama ini saya menerima pengertian engagement hanya dari kacamata atasan terhadap bawahan, dan bukan sebaliknya. Jadi apa yang ditampilkan tentang engagement adalah hal-hal yang hanya menuntut karyawan tanpa bercermin terlebih dahulu. "Rasulullah tidak pernah mengajarkan Sholat, Puasa, Zakat, Kurban dan lain-lain tanpa contoh terlebih dahulu dari beliau". Berikut ini petikan artikel tersebut.

Teori-teori yang biasanya mengandung gagasan-gagasan besar justru membuat kita sulit untuk mempraktikkannya dalam aksi keseharian di tempat kerja. Mari, coba cara yang lain, yakni dengan melakukan hal-hal yang "kecil".

Ada 10 hal sederhana yang bisa membantu anda menciptakan engagement karyawan. Menjaga 10 hal ini senantiasa ada dalam benak akan membantu Anda mengelola secara lebih baik anak buah Anda, sekaligus membuat kantor selalu produktif.

1. Buang jauh-jauh kesan dan prasangka yang mungkin ada di kepala Anda mengenai karyawan secara umum.

2. Cobalah untuk mendekati anak buah dengan "tatapan yang segar" dan masuklah ke dalam perspektif mereka yang unik.

3. Pastikan setiap karyawan Anda telah dilengkapi dengan perangkat, alat dan apa pun yang diperlukan untuk pekerjaan mereka.

4. Pastikan karyawan mengetahui dengan jelas apa Anda harapkan dari mereka berkaitan dengan pekerjaan.

5. Luangkan waktu untuk mengenal lebih dekat anak buah Anda dan ketahui apa tujuan karier mereka.

6. Bayarlah ongkos yang diperlukan dan pastikan karyawan Anda telah mendapatkan pelatihan yang layak.

7. Mintalah respon langsung untuk mengevaluasi diri Anda sendiri; cari tahu bagaimana penerimaan mereka terhadap diri dan kerja Anda.

8. Beri perhatian yang cukup terhadap acara-acara yang berlangsung di kantor, dan apa yang terjadi di sekitar Anda.

9. Beri pengakuan dan penghargaan kepada karyawan yang telah menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik.

10. Konsistenlah, jangan memulai suatu program dan menghentikannya di tengah jalan.

Di atas semua itu, apa pun yang Anda lakukan, janganlah menjadi manajer yang sepanjang hari "bersembunyi" di balik meja dalam ruang kerja yang tertutup. Bicarakan kepada anak buah, kenalilah mereka dan perlakukan mereka dengan selayaknya dan Anda pun akan mendapatkan imbal-baliknya.

Mungkin ngga ya ada manajer seperti itu di kantor ku?????

portalhr.com


Sumber : http://www.portalhr.com/tips/2id165.html
Selengkapnya...

Agar Karyawan (Tetap) Tenang Bekerja

Bagi banyak manajer dan kalangan pemimpin bisnis, resesi memicu aksi yang nyaris spontan dan sama di mana-mana: ambil langkah bertahan, kurangi karyawan dan pangkas setiap biaya sebisa mungkin. Namun, para pemimpin yang (lebih) cerdas juga melihat bahwa masa sulit seperti sekarang ini selain memaksa untuk menelan pil pahit, juga menawarkan banyak keuntungan. Sumber daya manusia menjadi lebih murah, dan perusahaan bisa mencaplok karyawan bagus dari perusahaan lain, ketika pemain lain melakukan pengurangan.

Masa krisis adalah peluang besar untuk menyambar setiap orang berbakat. Sebab, pemotongan biaya yang tak terkendali serta ketidakpastian membuat karyawan produktif mencari tempat kerja lain. Bagaimana cara mempertahankan agar karyawan-karyawan terbaik yang Anda miliki tetap fokus di tengah makin maraknya PHK? Berikut tips yang diberikan oleh Majalah NewsWeek Indonesia:

1. Libatkan semua orang

Dalam situasi yang diwarnai dengan ketidakpastian, tak ada pihak yang merasa (paling) memiliki kendali besar. Jadikanlah para karyawan sebagai bagian dari solusi. Kalau perlu lakukan survei kecil-kecilan untuk karyawan guna menjaring ide-ide dan masukan.

2. Tentukan target secara realistis

Tiba-tiba target penjualan tak bisa dipenuhi. Untuk memotivasi karyawan, buat agar target tahun berikutnya bisa dicapai. Tambahkan metrik yang bisa mempengaruhi karyawan, misalnya nilai kepuasan pelanggan.

3. Berdayakan supervisi lini depan

Para CEO perlu melakukan pertemuan akbar dan menjalin komunikasi terus-menerus selama masa sulit. Pastikan setiap manajer dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dari timnya.

4. Jangan lupakan bintang Anda

Talent terbaik yang Anda miliki bisa dibajak sama mudahnya di masa-masa sulit seperti sekarang. Oleh karenanya, jika memang gaji mereka turun atau tetap, berikan kompensasi pada para pemain bintang dalam tim Anda. Atau, mereka akan angkat kaki.

5. Hindari PHK massal

Jangan lakukan PHK secara merata. Divisi litbang dan penjualan, serta bidang-bidang lain semestinya tidak mengalami pengurangan sebanyak divisi administratif.


portalhr.com

URL : http://www.portalhr.com/tips/2id181.html
Selengkapnya...

Menikmati Pekerjaan yang Tidak Anda Sukai

Kalau semua orang, setelah lulus dari universitas, lantas mendapatkan pekerjaan sesuai dengan harapan dan cita-citanya, maka betapa indahnya hidup ini. Tapi, hal seperti itu hanya terjadi dalam dunia ideal. Sedangkan dalam kenyataan sehari-hari, kehidupan lebih sering berjalan jauh dari situasi yang kita idealkan. Sudah bukan cerita baru lagi kalau banyak lulusan teknik yang akhirnya, karena berbagai faktor dan keadaan yang memaksa, bekerja di bank atau lulusan pertanian ujung-ujungnya menjadi wartawan.

Barangkali Anda termasuk karyawan yang diam-diam merasa tidak menyukai pekerjaan Anda. Penyababnya bisa banyak hal. Namun, apa pun itu, yang jelas itulah kenyataan yang Anda hadapi saat ini. Berhentilah mengeluh, dan mulailah untuk belajar menyadari bahwa Anda tidak bisa terus-menerus buang-buang waktu dengan menyesali apa yang telah terjadi. Sebab, kadang, pada kenyataannya, sebanyak apa pun keluhan Anda toh, keberanian untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain yang sesuai keinginan, tak kunjung Anda miliki.

Lebih-lebih, dalam situasi krisis seperti sekarang, mencari pekerjaan sulit dan bahkan banyak terjadi PHK, mungkin Anda akan semakin tenggelam dalam kubikel meja kerja Anda dan menelan ketidaksukaan Anda pada pekerjaan yang harus Anda jalani sehari-hari. Mau tidak mau. Nasihat paling gampang, tentu, terimalah kenyataan. Tapi, Anda pasti akan mengejar lagi, setelah itu apa? Baiklah, mudah-mudahan tips berikut ini cukup membantu:

1. Sadarilah, untuk mencapai suatu kesuksesan orang harus mampu melakukan dengan baik hal-hal yang tidak disukai, termasuk pekerjaan. Bersikaplah profesional, konsisten dengan kinerja yang bagus. Bila Anda menonjol di antara teman-teman sekantor, mungkin Anda akan merasa lebih terpacu untuk mencintai pekerjaan Anda.

2. Berusahalah untuk melihat suatu pekerjana bukan semata-mata sebagai hasil, melainkan lebih pada prosesnya. Rasakan dan nikmati proses itu. Anda akan belajar banyak hal dari sana.

3. Berpikirlah ke depan. Lihat apa yang Anda lakukan sekarang ini dalam tatapan jangka panjang. Yakinlah bahwa apa yang Anda kerjakan saat ini akan bermanfaat dan memberi konstribusi pada masa depan Anda nanti --sebagai apa pun dan di mana pun Anda di masa yang akan datang.

4. Libatkan diri Anda dalam pergaulan yang seluas-luasnya dalam lingkungan kerja. Nikmati interaksi dengan orang lain. Belajarlah dari tim bagaimana menyelesaikan masalah bersama. Jangan lewatkan kesempatan untuk terlibat dalam urusan-urusan dengan klien, bertemu orang baru, saling tukar kartu nama dengan kolega-kolega.

5. Selalu berpikir positif. Barangkali ini agak klise tapi, konteksnya begini: jadikanlah situasi yang menekan (karena Anda tidak suka dengan pekerjaan Anda) itu sebagai peluang. Berpikirlah bahwa ini semua tantangan bagi Anda.

portalhr.com


URL : http://www.portalhr.com/tips/2id194.html Selengkapnya...

Jabatan oh jabatan

Jabatan - oh jabatan,,,,,,, selalu membuat orang lupa. Lupa pada dirinya sendiri, lupa asalnya dari mana?, lupa keluarga, lupa istri, lupa segalanya, dan yang diingat hanya nafsu. Jabatan bisa membuat orang terkenal, membuat orang jadi kaya (kaya harta & kaya dosa), membuat orang dikagumi oleh wanita-jika pria dan dikagumi oleh laki-laki - jika wanita (namun jarang ada). Jabatan membuat orang bisa bertindak sekehendak hatinya, menginjak bawahan, merendahkan orang, mencaci tuhan, menjial harga dirinya. Itulah yang sering kali saya lihat disekeliling saya (mungkin termasuk saya, namun apakah jabatan saya????). Tapi tau nggak apa yang dikatakan
Rasulullah SAW (khusus yang masih percaya dan tidak menjual imannya hanya untuk jabatan).

Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (Muttafaqun alaihi), pernah berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, ''Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta suatu jabatan (kursi), karena sesungguhnya jika kamu diberi suatu jabatan tanpa memintanya maka kamu akan mendapat pertolongan Allah dalam menjalankan jabatan itu. Tetapi kalau kamu diberi jabatan karena meminta, maka (beban) jabatan itu diserahkan sepenuhnya kepadamu.''

Mengapa manusia suka akan ''kursi'' yang satu ini? Jawabannya mudah: karena ia memberikan janji kenikmatan. Sehingga walaupun ia harus mengorbankan harta atau nyawa sekalipun, akan dilakukannya. Bagi yang menganggap kursi atau jabatan sebagai ''komoditi nonmigas'', maka ia akan menghitungnya dengan perhitungan bisnis. Biaya, tenaga, pikiran, dan segala pengeluaran akan dianggapnya sebagai modal usaha yang harus mendatangkan keuntungan dalam waktu tertentu.

Tampaknya kebanyakan manusia belum tahu apa sesungguhnya jabatan itu, dan apa akibatnya di akhirat nanti. Rasulullah saw menegaskan, ''Sesungguhnya kamu sekalian akan berambisi untuk dapat memegang suatu jabatan, tetapi nanti pada hari kiamat jabatan itu menjadi sebuah penyesalan'' (HR Bukhari). Penyesalan yang muncul kemudian dikarenakan ia tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya selama menjabat adalah telah ''memperdagangkan'' rakyat untuk kepentingan hawa nafsunya. Rakyat menjadi sapi perah baginya dan sumber kesenangan diri dan keluarganya. Padahal mestinya, dialah yang harus menjadi pelayan rakyat, karena jabatan adalah amanah Allah melalui rakyat.

Jabatan itu tidak perlu diminta, kecuali benar-benar tidak ada yang sanggup memikulnya. Kemudian, bila ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih mampu memikulnya, hendaknya ia serahkan jabatan itu kepadanya. Ini seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf yang pernah meminta jabatan kepada Raja Mesir. Hal itu ia lakukan, selain sebagai upaya menyelamatkan negeri itu dari bahaya kelaparan akibat tujuh tahun musim paceklik, juga lantaran ia tahu betul tentang ilmu perbendaharaan dan bagaimana menjaga amanah.

Sedang bagi yang tak mampu memegang jabatan, seyogianya bertindak seperti apa yang pernah disabdakan Nabi saw kepada Abu Dzar. Beliau berkata, ''Wahai Abu Dzar, sesungguhnya aku melihat kamu itu lemah dan sesungguhnya aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri. Janganlah kamu menjadi pejabat, walaupun hanya terhadap dua orang dan jangan sekali-kali kamu mengelola harta anak yatim.'

Itulah bukti kecintaan Nabi kepada sahabatnya. Beliau tidak rela jika Abu Dzar menyesal di kemudian hari. Melaksanakan jabatan harus dibekali ilmu di samping iman. Ilmu tanpa iman ibarat orang buta. Orang buta tidak akan pernah bisa melihat rambu-rambu jalan, kapan ia harus berhenti, dan kapan harus jalan. Seorang pejabat -- jika tidak ingin jabatannya kelak menjadi penyesalan -- hendaknya bersifat amanah: menggunakan haknya dan menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya dan siap mengembalikan amanah tersebut kepada pemiliknya, Allah swt (HR Muslim). - ahi
By Fauzan Al-Anshari(http://republika.co.id/berita/37648/Jabatan)
Selengkapnya...

The-Coswara

The-Coswara hadir untuk The-Coswara.

Tim The-Coswara Selengkapnya...